Ada banyak orang yang telah dilemahkan oleh cinta manusia. Cinta bukan menjadi energi yang mendorong produktivitas amal dunia-akhirat, tetapi menjadi beban yang memberati jiwa untuk bebas berbakti. Luar biasa kekhawatiran dalam diri Abu Bakar Ash Shiddiq R.A, atas Abdurrahman sang putera yang begitu mencintai Atikah isterinya.
Amat kuat ikatan mereka berdua, seolah tak ada yang bisa memisahkan. Jangan sampai, pikir Abu bakar, cinta Abdurrahman pada istri membuatnya melalaikan jihad dan ibadah. Ceraikan isterimu! Begitu perintahnya pada sang putera. Lalu,demi mentaati sang Ayah, Abdurrahman pun menceraikan istrinya. Lihatlah perceraian agung ini, bukan karena ketidakcocokan satu sama lain, melainkan sebab kekhawatiran bahwa cintanya akan tumbuh tidak sehat.
Tentu saja, nelangsa perasaan 'Abdurrahman menanggung beban perceraian itu. Selama ini, meski ia mencintai Atikah dgn penuh kesungguhan,tapi ia tetap berusaha agar cinta itu tak menodai ikrar pada Allah untuk berjihad, demi Allah, ia sudah berusaha. Kini, perasaan cinta yang begitu menggores itu melahirkan syair yang dikenang sejarah:
Demi Allah, tidaklah aku melupakanmu
Walau mentari kan terbit meninggi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali berbagi hati
Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia
Dithalaq karena dosanya
Dia berakhlaq mulia, beragama,
Dan bernabikan Muhammad
Berbudi pekerti tinggi, bersifat pemalu,
Dan halus tutur katanya
Luluh kemudian hati sang ayah, Abu Bakar Ash Shiddiq. merekapun di ijinkan rujuk kembali. Saat itulah Abdurrahman bin Abu Bakar menunjukkan kesucian cintanya. Ia buktikan, bahwa cinta kepada istri tak pernah melebihi cinta akan Allah, Rasul, dan jihad sampai ia syahid dalam perang tak berapa lama kemudian. Abdurrahman bin Abu Bakar R.A . Allah ridha pada mereka berdua, ayah dan anaknya.
Membaca kisah ini menjadikan kita begitu malu. Betapa persepsi kita atas cinta begitu jauh dari apa yang difahami Abu Bakar maupun Abdurrahman. Cinta suami-istri yang halalan thayyiban pun masih membuat mereka risau akan ridha tidaknya Allah. Sementara kita enteng saja mengakatan bahwa kita mencintai si dia karena Allah semata. Masya Allah
Dikutip dari buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan - Salim A. Fillah
Jumat, 29 April 2016
Menikah..
MENIKAH adalah keindahan, kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Rumahtangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tak bermakna. Menikah, dakwah dan jihad adalah seiring sejalan, kecuali bagi orang2 yang terkacaukan logika dan nalarnya. Menikah adalah bagian dari dua hal ini, kecuali bagi yang memandangnya sebagai buah yang dipetik atau rehat yang diambil setelah lama menjadi aktivis bujang.
Amat heran saya mendengar kata2 yg dipakai sebagai alasan untuk menunda pernikahan. "Akhi.." dengan penuh lembut seorang ikhwan berkata, "saya kira antum berbicara pernikahan bukan dengan org yg tepat. Saya ingin menikah, insya allah nanti, setelah mengoptimalkan produktivitas dakwah saya. Ada banyak hal yang belum saya lakukan. Kontribusi dakwah saya masih terlalu kecil. saya masih jauh dari kualifikasi pemuda yang digambarkan sebagai jundi dakwah. Apa kita ga malu, bahwa yg kita bicarakan pernikahan,pernikahan, pernikahan? Lihatlah pemuda2 seperti Usamah bin Zaid yg menjadi panglima besar di usia 18 taun. Lihatlah Mush'ab bin Umair yang di usia 20 thn menjadi duta untuk membuka dakwah di Madinah. Lihatlah Ali bin Abi Thalib.."
Allahu akbar! Secara pribadi, saya terkagum pada ghirah dakwah beliau yang setegar gunung dan sekukuh karang. Semoga Allah menguatkannya selalu. Hanya saja saya menganggap bahwa cara berfikir beliau ini berbahaya. Mungkin saya subjektif. Tetapi tersirat dalam kalimat beliau, seolah ada pertentangan antara produktivitas dakwah dengan pernikahan. Sepertinya kalau sudah kalau sudah menikah maka kita tidak bisa meneladani Usamah, Mush'ab, dan Ali. sepertinya, sesudah menikah, tidak termungkinkan untuk menjadi aktivis dengan kemuliaan sebagaimana ketika kita belum menikah. Seolah - olah, puncak prestasi dakwah selalu kita raih sebelum kita menikah.
Dalam pengamatan saya,cara berfikir ini bermula dari persepsi bahwa 'menikah dengan seorang akhwat yang shalihah adalah buah dari dakwah.' Pernikahan dipersepsikan sebagai salah satu terminal perhentian,tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak dianggap sebagai bagian dari dakwah. Seakan pernikahan adalah episode baru yang -kasarnya- menjadi tujuan dari dakwahnya selama ini.
-Afwan, saya jadi sok tahu- kurang lengkap mengutip sirah sahabat. sefaham kita, sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah bin Zaid telah menikah dengan Fathimah binti Qais di usia 16 taun. sebelum menjadi duta ke madinah,Mush'ab bin Umair telah menikah dengan Hamnah binti Jahsy. Dan sebelum mengambil peran-peran di sisi Rasulullah, Ali bin Abi Thalib RA telah menjadi menantu beliau. Mereka telah berjibaku memimpin keluarga, sebelum sukses memimpin dakwah.
Nah, mari kita bersedih ketika pernikahan memutus keterlibatan saudara-saudara kita dari dakwah. mari kita bersedih ketika pernikahan menumpulkan. Mari menitikkan air mata jika menikah dengan orang terhalang untuk menjadi Usamah, Mush'ab dan Ali. Mari kita menangis dihadapan Allah jika pernikahan telah melenakan manusia dari tugas agubg berdakwah dan berjihad di jalan-Nya. Jika demikian, dimanakah barakah yang seharusnya kita raih?
'Ala Kulli haal, segalanya bermula dari bagaimana cara kita mempersepsi pernikahan. Pernikahan disebut sebagai separuh agama, karena ianya adalah masalah aqidah. masalah bagaimana kita berpersepsi thd Allah, diri kita, dan pernikahan itu sendiri. Dan pernikahan juga disebut separuh agama, karena tanpa isteri disisi, banyak perinta Allah dalam Al-Qur'an belum akan terasa maknanya.
Misalnya, di dalam rangkaian perintah berpuasa, ada ayat ke-187 surat Al-Baqarah yang berbunyi "uhilla lakum lailatash shiyamir rafaatsu ilaa nisaaikum.." yg berarti "dihalalkan bagi kalian di malam-malam puasa untuk rafats kepada istri istri kalian.." nah kalau belum menikah, berarti kita belum bisa merasakan keagungan ayat ini. dan itu artinya, pengalaman kita thd ayat-ayat ttg puasa masih belum utuh. Belum sempurna. Maklum, kita belum meraih separuh agama.
Semoga pemahaman ini menjadi awal bertambahnya barakah dalam pernikahan kita, terutama dalam sisi produktivitas amal dan jihad di jalanNya. Sungguh pernikahan adalan bagian dari dua hal ini, maka jangan pernah memandangnya sebagai buah yang akan kita petik dan rehat yang akan kita lakukan atas dakwah kita selama ino. Rehatlah nanti, ketika kaki kita melangkah dan memijak ke surga Allah..
Wallahua'lam..
Dikutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim - Salim A. Fillah
Amat heran saya mendengar kata2 yg dipakai sebagai alasan untuk menunda pernikahan. "Akhi.." dengan penuh lembut seorang ikhwan berkata, "saya kira antum berbicara pernikahan bukan dengan org yg tepat. Saya ingin menikah, insya allah nanti, setelah mengoptimalkan produktivitas dakwah saya. Ada banyak hal yang belum saya lakukan. Kontribusi dakwah saya masih terlalu kecil. saya masih jauh dari kualifikasi pemuda yang digambarkan sebagai jundi dakwah. Apa kita ga malu, bahwa yg kita bicarakan pernikahan,pernikahan, pernikahan? Lihatlah pemuda2 seperti Usamah bin Zaid yg menjadi panglima besar di usia 18 taun. Lihatlah Mush'ab bin Umair yang di usia 20 thn menjadi duta untuk membuka dakwah di Madinah. Lihatlah Ali bin Abi Thalib.."
Allahu akbar! Secara pribadi, saya terkagum pada ghirah dakwah beliau yang setegar gunung dan sekukuh karang. Semoga Allah menguatkannya selalu. Hanya saja saya menganggap bahwa cara berfikir beliau ini berbahaya. Mungkin saya subjektif. Tetapi tersirat dalam kalimat beliau, seolah ada pertentangan antara produktivitas dakwah dengan pernikahan. Sepertinya kalau sudah kalau sudah menikah maka kita tidak bisa meneladani Usamah, Mush'ab, dan Ali. sepertinya, sesudah menikah, tidak termungkinkan untuk menjadi aktivis dengan kemuliaan sebagaimana ketika kita belum menikah. Seolah - olah, puncak prestasi dakwah selalu kita raih sebelum kita menikah.
Dalam pengamatan saya,cara berfikir ini bermula dari persepsi bahwa 'menikah dengan seorang akhwat yang shalihah adalah buah dari dakwah.' Pernikahan dipersepsikan sebagai salah satu terminal perhentian,tempat memetik manfaat. Pernikahan tidak dianggap sebagai bagian dari dakwah. Seakan pernikahan adalah episode baru yang -kasarnya- menjadi tujuan dari dakwahnya selama ini.
-Afwan, saya jadi sok tahu- kurang lengkap mengutip sirah sahabat. sefaham kita, sebelum menjadi panglima di usia 18 tahun, Usamah bin Zaid telah menikah dengan Fathimah binti Qais di usia 16 taun. sebelum menjadi duta ke madinah,Mush'ab bin Umair telah menikah dengan Hamnah binti Jahsy. Dan sebelum mengambil peran-peran di sisi Rasulullah, Ali bin Abi Thalib RA telah menjadi menantu beliau. Mereka telah berjibaku memimpin keluarga, sebelum sukses memimpin dakwah.
Nah, mari kita bersedih ketika pernikahan memutus keterlibatan saudara-saudara kita dari dakwah. mari kita bersedih ketika pernikahan menumpulkan. Mari menitikkan air mata jika menikah dengan orang terhalang untuk menjadi Usamah, Mush'ab dan Ali. Mari kita menangis dihadapan Allah jika pernikahan telah melenakan manusia dari tugas agubg berdakwah dan berjihad di jalan-Nya. Jika demikian, dimanakah barakah yang seharusnya kita raih?
'Ala Kulli haal, segalanya bermula dari bagaimana cara kita mempersepsi pernikahan. Pernikahan disebut sebagai separuh agama, karena ianya adalah masalah aqidah. masalah bagaimana kita berpersepsi thd Allah, diri kita, dan pernikahan itu sendiri. Dan pernikahan juga disebut separuh agama, karena tanpa isteri disisi, banyak perinta Allah dalam Al-Qur'an belum akan terasa maknanya.
Misalnya, di dalam rangkaian perintah berpuasa, ada ayat ke-187 surat Al-Baqarah yang berbunyi "uhilla lakum lailatash shiyamir rafaatsu ilaa nisaaikum.." yg berarti "dihalalkan bagi kalian di malam-malam puasa untuk rafats kepada istri istri kalian.." nah kalau belum menikah, berarti kita belum bisa merasakan keagungan ayat ini. dan itu artinya, pengalaman kita thd ayat-ayat ttg puasa masih belum utuh. Belum sempurna. Maklum, kita belum meraih separuh agama.
Semoga pemahaman ini menjadi awal bertambahnya barakah dalam pernikahan kita, terutama dalam sisi produktivitas amal dan jihad di jalanNya. Sungguh pernikahan adalan bagian dari dua hal ini, maka jangan pernah memandangnya sebagai buah yang akan kita petik dan rehat yang akan kita lakukan atas dakwah kita selama ino. Rehatlah nanti, ketika kaki kita melangkah dan memijak ke surga Allah..
Wallahua'lam..
Dikutip dari buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim - Salim A. Fillah
Bekerjalah..Beramallah.. maka keajaiban itu akan datang
Bismillah..
Kali ini aku share tentang kisah yang sangat inspiratif.. kisah ini saya kutip dari buku nya Ust. Salim A. Fillah Yang berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah
Mari kita simak..
" Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga 'izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qur'ani di pasar madinah, terbitlah keajaiban itu. 'Abdurrahman ibn 'Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manjah ekonomi Qur'ani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparasi, dan akad akad yang tercatat rapi.
Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. "Ya Rasulallah, aku telah menikah!" ,katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahannya dengan menyembelih domba. Suatu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, "Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!"
Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak
Dimana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang di tawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang istri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi 'Abdurrahman ibn 'Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.
Memulai dengan tangan kosong seperti 'Abdurrahman ibn 'Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. mungkin dan bisa.
Tetapi, apakah kemudahan itu?
Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia haru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.
Christoper Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. "Tuan-tuan," suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. "Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?"
"Christoper," kata seorang tua disana,"itu adalah hal yang tidak mungkin!"
Semua mengangguk mengiyakan.
"Saya bisa," kata Columbus. Dia menyeringai sejenak kemudia memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.
"Ooh.. kalo begitu caranya, kami juga bisa!" Kata seseorang
"Ya..ya..ya.." seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, "itulah bedanya aku dan kalian! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya disaat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!"
Dalam dekapan ukhuwah, berkerjalah, beramallah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, kita beramal, karena bekerja dan beramal adalah bentuk kesyukuran terindah. Seperti firmanNya:
"Bekerjalah hai keluarga Dawud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur" (Qs. Saba' : 13) "
Masya Allah!
Memang kisah-kisah pada zaman Rasulallah SAW selalu menakjubkan:') membuat hati iri ingin rasanya merasakan kenikmatan pada zaman itu. Sakit memang. Lelah memang. Berat memang. Tapi semua itu terkalahkan oleh "cinta" . begitu besar kecintaan Rasulullah dan sahabatnya kepada Allah dan RasulNya sehingga sakit,lelah dan beban yang mereka rasakan seakan akan hanya angin yang lewat. Mereka selalu yakin ada kenikmatan yang jaaauuuhhh lebih baik daripada dunia, yang jauuh lebih nikmat. yaitu SurgaNya. Masya Allah, Subhanallah,Barakallah.. :") Ingin sekali lebih banyak share ttg kisah-kisah pada zaman Rasulullah yang kisahnya sangat memukau hati, namun untuk saat ini sampai sini dulu:) semoga dapat diambil hikmahnya..
Assalamualaikum..!
Bismillahirrahmaanirrahiim..
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberiku kesempatan untuk menulis blog ini.
Setelah sekian lama belum nulis lagi, dan berhubung ada pembaca setia yang minta update lagi:pš haha in sya allah saya akan share" ilmu yang bisa share disini..
Akan ada beberapa hal yg saya tulis. Namun mari kita bahas satu persatu.. ini dia...
Bismillahirrahmanirrahim..
pasti pernah denger kalimat ini "perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan perempuan yang buruk untuk lelaki yang buruk"
Yap, kutipan di atas bisa dilihat lebih rincinya di Qs. An-Nur: 26
Nah benarkah perempuan yang baik PASTI dapat laki-laki yang baik?
mari kita bahas lebih lanjut:
BENARKAH WANITA YANG BAIK UNTUK LAKI-LAKI YANG BAIK??
Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan dari seorang teman, apakah benar laki-laki yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik juga? Sebagaimana Al-Quran telah menyebutkan hal itu dalam surat An-Nur ayat 26:
"Wanita-wanita yang keji untuk para pria yang keji, dan pria yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik"
Yang baik untuk yang baik pula??
Yang jadi pertanyaan besar adalah seolah ayat ini bertentangan dengan kenyataan yang bisa kita lihat dalam jejak rekam sejarah. Misalnya kita tahu bahwa Fir’aun yang menjadi musuh Nabi Musa as adalah manusia yang paling jahat di muka bumi pada masa itu, Al-Quran sendiri dalam banyak ayat mengabadikan bagaimana sombongnya Fir’aun, kezhalimannya sangat diluar batas, dia juga tidak segan mengaku sebagai Tuhan dan memerintahkan manusia untuk menyembahnya.
Semua anak laki-laki dia bunuh karena ada ramalan yang menyebutkan kelak akan datang seorang anak laki-laki yang menjadi musuh utama dan yang akan menghancurkannya. Tapi di sisi lain, Al-Quran juga merekam sifat-sifat mulia dari istri Fir’aun, yaitu ‘Asyiyyah. Beliau adalah seorang istri shalihah. Coba kita perhatikan Al-Quran surat At-Tahrim ayat 11:
"Dan Allah membuat istri Fir’aun menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, waktu dia berkata: Wahai Tuhanku, dirikanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga firdaus & selamatkan aku dari Fir’aun dan juga perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum-kaum yang zhalim."
Fir’aun yang zhalim beristrikan Asyiyyah yang shalihah. Apakah ini tidak bertentangan? Kita juga tahu dalam kisah Nabi Luth as dijelaskan bahwa Beliau adalah seorang Nabi yang mulia, tak berhenti berdakwah untuk mengajarkan tauhid pada kaumnya. Tapi bagaimana dengan istri Nabi Luth sendiri? Dia termasuk istri yang tidak baik dan akhirnya termasuk diantara umat Nabi Luth as yang mendapatkan adzab-Nya. Apakah ini tidak bertentangan dengan surat An-Nur ayat 26 diatas?
Dalam Al-Quran juga terdapat kisah Nabi Nuh as yang dikenal umat Islam termasuk dalam ulul azmi, yaitu Nabi yang sangat sabar menghadapi umatnya. Perjuangan Nabi Nuh diceritakan Allah dalam surat yang diberi nama dengan nama Beliau sendiri, yaitu surat Nuh.
Bagaimana dengan istri Nabi Nuh sendiri? Istri Nabi Nuh bukan hanya tidak menghormati dan menghargai suami, tapi juga menolak ajaran tauhid yang dibawa suaminya sendiri, bersama anaknya yang bernama Kan’an mereka tenggelam dalam air bah yang menjadi adzab Allah bagi kaum Nabi Nuh as. Mereka tidak ikut bersama orang-orang yang selamat naik dalam bahtera Nabi Nuh. Nabi Nuh dan istrinya merupakan pasangan yang shalih dan tidak shalihah. Jika pria yang baik untuk wanita yang baik saja, bukankah itu seperti bertentangan?
Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai contoh bagi orang-orang yang kafir. Keduanya berada di dalam pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, kemudian kedua istri itu berkhianat kepada suami mereka, maka para suaminya tidak bisa menolong mereka sedikitpun dari adzab Allah, dan dikatakan (pada keduanya): Masuklah ke dalam neraka jahanam bersama orang-orang yang masuk ke dalam (neraka jahanam).
Kadang orang baik dapat pasangan yang buruk
Jika laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik, kenapa Al-Quran menyebutkan bahwa kelak diakhirat ada istri-istri orang yang beriman yang menjadi musuh? Mereka menghujat suaminya dan hendak menjerumuskannya kedalam Neraka. Ini berarti ada laki-laki beriman yang mempunyai istri yang buruk. Coba perhatikan Al-Quran surat At-Taghabun ayat 14.
"Hai orang-orang beriman, sungguh diantara para istri dan anak-anakmu ada yang jadi musuhmu, maka berhati-hatilah terhadap mereka dan apabila kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
Masih belum cukup? Perhatikan orang-orang disekeliling Anda. Apakah Anda menemukan pasangan seperti ini? Kadang ada laki-laki yang baik dan sholeh tapi istrinya tidak taat suami, atau sebaliknya seorang istri yang setia dan shalihah tapi sang suami sangat buruk akhlaknya.
Jadi bagaimana dengan surat An-Nur ayat 26 tersebut? Jika difahami secara harfiah tentu kita akan memahaminya sebagaimana adanya. Tapi sebenarnya jika kita lihat asbabun nuzul (sebab turun) ayat tersebut, kita akan faham bahwa yang dimaksud laki-laki baik dan wanita baik dalam ayat tersebut adalah Rasulullah dan ‘Aisyah, jelas ini merupakan pasangan serasi, suami yang baik dengan istri yang baik. Lihat Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Imam Ibn Katsir dalam menafsiri ayat ini.
Al-Quran surat An-Nur ayat 26 ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian Sayyidah ‘Aisyah dan Shafwan bin al-Mu’attal dari semua tuduhan yang ditujukan kepada mereka kala itu. Ceritanya dalam sebuah perjalanan sepulangnya dari penaklukan Bani Musthaliq, Tanpa sengaja Sayyidah ‘Aisyah terpisah dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian bertemu dengan Shafwan diantarkan pulang oleh Shafwan juga yang sama-sama tertinggal dari rombongan karena sudah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.
Akhirnya Sayyidah ‘Aisyah pulang dikawal oleh Shafwan dengan naik untanya masing-masing hingga sampai ke Madinah. Golongan Yahudi dan orang-orang munafik melihat peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menghembuskan fitnah perselingkuhan.
Saat itu kaum muslimin pun ada yang pro dan yang kontra menanggapi isu tersebut. Sikap Nabi juga jadi berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh kepada ‘Aisyah untuk segera bertaubat atas apa yang telah terjadi. Namun Sayyidah ‘Aisyah tentu tidak mau bertaubat karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kaum munafik kepadanya, ‘Aisyah hanya menangis dan berdo’a agar Allah menunjukkan fakta yang sebenarnya. Allah menjawab do’a Aisyah dengan menurunkan surat An-Nur ayat 26 ini.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas berdampingan bagi laki-laki yang jahat pula dan begitupun sebaliknya. demikian pula dengan wanita yang baik hanya pantas berdampingan dengan laki-laki yang baik pula dan begitupun sebaliknya. Bukan berarti laki-laki yang baik PASTI akan mendapatkan wanita yang baik atau sebaliknya.
Ayat ini justru merupakan anjuran bagi setiap muslim untuk berhati-hati dalam memilih pasangannya agar memilih calon suami yang baik dan juga bagi para pria untuk memilih calon istri yang baik pula. Wallahu A’lam...
kurang lebih seperti itu.. untuk pembahasan kali ini cukup sekian dulu semoga apa yang saya tulis bermanfaat :)
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Segala puji bagi Allah yang masih memberiku kesempatan untuk menulis blog ini.
Setelah sekian lama belum nulis lagi, dan berhubung ada pembaca setia yang minta update lagi:pš haha in sya allah saya akan share" ilmu yang bisa share disini..
Akan ada beberapa hal yg saya tulis. Namun mari kita bahas satu persatu.. ini dia...
Bismillahirrahmanirrahim..
pasti pernah denger kalimat ini "perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan perempuan yang buruk untuk lelaki yang buruk"
Yap, kutipan di atas bisa dilihat lebih rincinya di Qs. An-Nur: 26
Nah benarkah perempuan yang baik PASTI dapat laki-laki yang baik?
mari kita bahas lebih lanjut:
BENARKAH WANITA YANG BAIK UNTUK LAKI-LAKI YANG BAIK??
Tulisan ini berawal dari sebuah pertanyaan dari seorang teman, apakah benar laki-laki yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik juga? Sebagaimana Al-Quran telah menyebutkan hal itu dalam surat An-Nur ayat 26:
"Wanita-wanita yang keji untuk para pria yang keji, dan pria yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik untuk wanita-wanita yang baik"
Yang baik untuk yang baik pula??
Yang jadi pertanyaan besar adalah seolah ayat ini bertentangan dengan kenyataan yang bisa kita lihat dalam jejak rekam sejarah. Misalnya kita tahu bahwa Fir’aun yang menjadi musuh Nabi Musa as adalah manusia yang paling jahat di muka bumi pada masa itu, Al-Quran sendiri dalam banyak ayat mengabadikan bagaimana sombongnya Fir’aun, kezhalimannya sangat diluar batas, dia juga tidak segan mengaku sebagai Tuhan dan memerintahkan manusia untuk menyembahnya.
Semua anak laki-laki dia bunuh karena ada ramalan yang menyebutkan kelak akan datang seorang anak laki-laki yang menjadi musuh utama dan yang akan menghancurkannya. Tapi di sisi lain, Al-Quran juga merekam sifat-sifat mulia dari istri Fir’aun, yaitu ‘Asyiyyah. Beliau adalah seorang istri shalihah. Coba kita perhatikan Al-Quran surat At-Tahrim ayat 11:
"Dan Allah membuat istri Fir’aun menjadi perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, waktu dia berkata: Wahai Tuhanku, dirikanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga firdaus & selamatkan aku dari Fir’aun dan juga perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum-kaum yang zhalim."
Fir’aun yang zhalim beristrikan Asyiyyah yang shalihah. Apakah ini tidak bertentangan? Kita juga tahu dalam kisah Nabi Luth as dijelaskan bahwa Beliau adalah seorang Nabi yang mulia, tak berhenti berdakwah untuk mengajarkan tauhid pada kaumnya. Tapi bagaimana dengan istri Nabi Luth sendiri? Dia termasuk istri yang tidak baik dan akhirnya termasuk diantara umat Nabi Luth as yang mendapatkan adzab-Nya. Apakah ini tidak bertentangan dengan surat An-Nur ayat 26 diatas?
Dalam Al-Quran juga terdapat kisah Nabi Nuh as yang dikenal umat Islam termasuk dalam ulul azmi, yaitu Nabi yang sangat sabar menghadapi umatnya. Perjuangan Nabi Nuh diceritakan Allah dalam surat yang diberi nama dengan nama Beliau sendiri, yaitu surat Nuh.
Bagaimana dengan istri Nabi Nuh sendiri? Istri Nabi Nuh bukan hanya tidak menghormati dan menghargai suami, tapi juga menolak ajaran tauhid yang dibawa suaminya sendiri, bersama anaknya yang bernama Kan’an mereka tenggelam dalam air bah yang menjadi adzab Allah bagi kaum Nabi Nuh as. Mereka tidak ikut bersama orang-orang yang selamat naik dalam bahtera Nabi Nuh. Nabi Nuh dan istrinya merupakan pasangan yang shalih dan tidak shalihah. Jika pria yang baik untuk wanita yang baik saja, bukankah itu seperti bertentangan?
Allah menjadikan istri Nuh dan istri Luth sebagai contoh bagi orang-orang yang kafir. Keduanya berada di dalam pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, kemudian kedua istri itu berkhianat kepada suami mereka, maka para suaminya tidak bisa menolong mereka sedikitpun dari adzab Allah, dan dikatakan (pada keduanya): Masuklah ke dalam neraka jahanam bersama orang-orang yang masuk ke dalam (neraka jahanam).
Kadang orang baik dapat pasangan yang buruk
Jika laki-laki yang baik hanya untuk wanita yang baik, kenapa Al-Quran menyebutkan bahwa kelak diakhirat ada istri-istri orang yang beriman yang menjadi musuh? Mereka menghujat suaminya dan hendak menjerumuskannya kedalam Neraka. Ini berarti ada laki-laki beriman yang mempunyai istri yang buruk. Coba perhatikan Al-Quran surat At-Taghabun ayat 14.
"Hai orang-orang beriman, sungguh diantara para istri dan anak-anakmu ada yang jadi musuhmu, maka berhati-hatilah terhadap mereka dan apabila kamu memaafkan, tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sungguh Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang."
Masih belum cukup? Perhatikan orang-orang disekeliling Anda. Apakah Anda menemukan pasangan seperti ini? Kadang ada laki-laki yang baik dan sholeh tapi istrinya tidak taat suami, atau sebaliknya seorang istri yang setia dan shalihah tapi sang suami sangat buruk akhlaknya.
Jadi bagaimana dengan surat An-Nur ayat 26 tersebut? Jika difahami secara harfiah tentu kita akan memahaminya sebagaimana adanya. Tapi sebenarnya jika kita lihat asbabun nuzul (sebab turun) ayat tersebut, kita akan faham bahwa yang dimaksud laki-laki baik dan wanita baik dalam ayat tersebut adalah Rasulullah dan ‘Aisyah, jelas ini merupakan pasangan serasi, suami yang baik dengan istri yang baik. Lihat Tafsir Al-Quran Al-‘Azhim karya Imam Ibn Katsir dalam menafsiri ayat ini.
Al-Quran surat An-Nur ayat 26 ini diturunkan untuk menunjukkan kesucian Sayyidah ‘Aisyah dan Shafwan bin al-Mu’attal dari semua tuduhan yang ditujukan kepada mereka kala itu. Ceritanya dalam sebuah perjalanan sepulangnya dari penaklukan Bani Musthaliq, Tanpa sengaja Sayyidah ‘Aisyah terpisah dari rombongan karena mencari kalungnya yang hilang dan kemudian bertemu dengan Shafwan diantarkan pulang oleh Shafwan juga yang sama-sama tertinggal dari rombongan karena sudah menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.
Akhirnya Sayyidah ‘Aisyah pulang dikawal oleh Shafwan dengan naik untanya masing-masing hingga sampai ke Madinah. Golongan Yahudi dan orang-orang munafik melihat peristiwa ini sebagai kesempatan untuk menghembuskan fitnah perselingkuhan.
Saat itu kaum muslimin pun ada yang pro dan yang kontra menanggapi isu tersebut. Sikap Nabi juga jadi berubah terhadap ‘Aisyah, beliau menyuruh kepada ‘Aisyah untuk segera bertaubat atas apa yang telah terjadi. Namun Sayyidah ‘Aisyah tentu tidak mau bertaubat karena merasa tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan kaum munafik kepadanya, ‘Aisyah hanya menangis dan berdo’a agar Allah menunjukkan fakta yang sebenarnya. Allah menjawab do’a Aisyah dengan menurunkan surat An-Nur ayat 26 ini.
Abdurrahman bin Zaid bin Aslam menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ayat ini adalah wanita yang jahat hanya pantas berdampingan bagi laki-laki yang jahat pula dan begitupun sebaliknya. demikian pula dengan wanita yang baik hanya pantas berdampingan dengan laki-laki yang baik pula dan begitupun sebaliknya. Bukan berarti laki-laki yang baik PASTI akan mendapatkan wanita yang baik atau sebaliknya.
Ayat ini justru merupakan anjuran bagi setiap muslim untuk berhati-hati dalam memilih pasangannya agar memilih calon suami yang baik dan juga bagi para pria untuk memilih calon istri yang baik pula. Wallahu A’lam...
kurang lebih seperti itu.. untuk pembahasan kali ini cukup sekian dulu semoga apa yang saya tulis bermanfaat :)
Langganan:
Komentar (Atom)



