Jumat, 26 Agustus 2016

Pra-Khitbah

Assalamualaikum sahabat fillah yang saya cintai, kali ini aku mau share ilmu ttg khitbah 😀
Materi ini ku dapet saat liqo, *waduh materinya udh ttg ginian aja* tapi emang ini tuh penting banget apalagi untuk kita yang lagi umurnya *tebak umurku berapa hayo?*
Ini penting bgt supaya ntar ketika kita akan menikah tidak akan salah menjalani prosesnya, tidak menyalahgunakan istilah dalam islam, dsb. So, mari kita simak..

Sebelumnya, kita bahas indikator menikah..
Hendaklah seorang pria menikahi wanita karena ; kecantikannya, kekayaannya, keturunannya, dan agamanya. Dan hendaklah ia utama memilih karena agamanya.

"Wanita dinikahi karena 4 perkara: karena hartanya, martabatnya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka hendaklah engkau mendapatkan wanita yang baik agamanya, niscaya engkau beruntung" (HR. Al-bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)

Mari kita lirik sebentar kisah yang menarik. (Dikutip dri buku salim A fillah )
Inilah setutur tentang budak, di zaman ketika para pekerja mau mencerdaskan diri dan para majikan sudi mendengar suara mereka. Dia Mubarak. Namanya nan berarti penuh berkah mengalir jadi doa utk kebun anggur yg dia jaga. Panen berlimpah sejak bulan pertama tugasnya.

Maka dia bulan ketiga, si majikan meninjau kebun itu. "Mubarak!" panggil sang tuan. "Ambilkan untukku setangkai anggur terbaik!"

Bergegas mubarak memilih di antara sulur2 anggur; dipetiknya setangkai yg buahnya tampak paling kokoh,liat, dan mengkilat. Diserahkannya anggur pilihannya itu pada sang majikan. Mengernyit sejenak, si tuan mencicipi sebutir. Dan benar! Masam!

"Mubarak!"bentaknya. "Apa ini?anggurnya masam sekali! Apakau sengaja membuatku marah pagi2? Cari lagi! Pilih yg betul!"

Bergegas mubarak ke sesuluran. Kalau yg tadi keliru, berarti cari sifat sebaliknya: dipilihnya yg lembek,berair, dan kusam. Begitu diserahkan, murkalah sang majikan. "Dungu! Yg tdi masam, skrg busuk! Tak tahukah kau mana anggur bagus?"

"Tidak,tuan!" jawab mubarak polos. "Celaka! Tiga bulan kau jaga kebun ini dan kau tak tau mana anggur yg bagus? Apa kerjamu?"

"Maaf tuan, saya tak tahu, sebab tugas yg tuan embankan adalah menjaga kebun, bukan mencicipi nya."

Ganti sang majikan terperangah. Dia tak meyangka Mubarak akan menjawab demikian. Alangkah jujur, amanah dan wara'nya.

Sejak itu, hubungan mereka jdi demikian dekat. Penuh kepercayaan, sang majikan memberi tugas2 yg kian berat pada Mubarak. Pun dalam hal2 pribadi; sang majikan mulai banyak meminta masukan dan pertimbangan Mubarak. Satu hari, dia dipusingkan putrinya.

Banyak sekali yg berminat menyunting si semata wayang, pilihan2 sungguh tak mudah, sulit sekali menjawab lamaran. "Dengan siapa sebaiknya kunikahkan putriku satu2nya itu, hai Mubarak? Bantu aku! Berikan pertimbanganmu!"

Mubarak berkata santun, "tuan, kudapati kaum yg menikahkan putrinya dengan pertimbangan nasab semata adalah musyrikin Quraisy. Dan kudapati, menikahkan anak perempuan dengan pertimbangan paras dan rupa di zaman ini, dilakukan sebagian orang2 nasrani. Kudapati pula, yg sering menikahkan putri mereka dengan pertimbangan kekayaan ialah sebagian Ahli Kitab dri kalangan Yahudi. Maka bagimu yg adalah seorang mukmin; yg harus kaupertimbangkan soal calon menantu hanyalah agamanya, imannya, akhlaqnya!"

"Kalau begitu," senyum si tuan, "aku tak punya pilihan lain. Bersiaplah, hai Mubarak, hari ini kunikahkan engkau dengan putriku!"

Dari pernikahan Mubarak dan putri majikannya, kelak lahirlah 'Abdullah ibn Al-Mubarak; tabi'in terkemuka, 'alim yg zahid dan mujahid. Pernikahan mereka adalah pemicu hadirnya lapis-lapis keberkahan yg memenuhi bumi dengan bersusun susun rasa surga.



                         *          *         *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar